18 Februari 2012

Sayangi Naskahmu Sebagaimana Kamu Menyayangi Anumu

Selamat Pagi

Di akhir pekan kayak gini, gue cuman di kost. Nggak ada yang istimewa. Bisa dibilang akhir pekan adalah hari mencuci pakaian. Ha..ha..ha..

Akhir-akhir ini gue lagi gandrung ikut event kepenulisan. Event yang masih dalam lingkup Grup efbe(facebook). Cuman gue rada gimana gitu sama beberapa event yang bikin gue geli. Beberapa peraturan dan ketentuan yang lucu banget.

Contoh beberapa point yang menurut gue lucu bin aneh.

1. Semua naskah yang masuk, menjadi milik panitia.

What? Itu artinya semua naskah yang dikirim peserta baik yang menang atau yang kalah sama-sama bakal kehilangan naskah? Itu bikin event atau lintah darat?

2. Bagi kontributor yang terpilih, WAJIB invest uang untuk biaya penerbitan dan pembelian buku.

Kalau kere, kagak punya duit, mending nggak usah bikin event dah. Nyusahin peserta. Karena peserta mungkin lebih kere dari anda. Kalau mau bikin event lomba modal donk.

jika kasusnya begini, gue justru lebih respect dengan judul proyek antologi, bukan event lomba. Sebab jika judulnya event lomba artinya ada kompetisi. Lhah kalo kere nggak usah jadi panitia. Itu bakal merusak citra anda. Bukan gue ngelarang ataupun curiga narik untung, hanya saja gue menyayangkan kenapa judulnya event lomba gitu lhoh? Artinya, panitianya aja nggak bisa ngartiin event lomba dengan event proyek gotong royong. Lantas gimana mau menilai?

3. Kontributor antologi tidak mendapat royalti

Ketawa gue baca kayak gini. Ini lomba apa preman pasar sih? Pengumpulan naskah untuk keuntungan pribadi. Buat orang kayak gini gue sumpahin matinya berdiri. Cuma gara-gara alasan "sebab hanya juara 1, 2, dan 3 sudah mendapatkan hadiah. Guobloook !! Juara 1, 2, 3 dapet hadiah tapi yang dibukukan 60 naskah.

4. Kontributor tidak mendapatkan buku terbit

Dan yang lebih parah, udah nggak dapet buku terbit, nggak dapet royalti, nggak dapet hadiah apapun. Lalu mengapa mereka tanpa dosa mengambil naskah kita? Apa karena kita nggak punya nama dan tolol dalam masalah ini?

5. Seluruh kontributor DIWAJIBKAN invest untuk cetak buku. Royalti akan disumbangkan ke panti. Kami jamin anda akan mendapatkan amal kebaikan dari tulisan anda

Amal panti pijat??? Aneh aja gitu lhoh. Ni panitia apa malaikat sih sebenarnya? Ko' bisa menjamin amal. Bukankah amal yang diumbar hanya akan mengurangi pahala? Dan yang perlu panitia tahu, bisa jadi justru salah satu kontributornya malah lebih pantas mendapat sumbangan sebab dia faqir wal miskin. Udah gitu nggak ada juntrungannya panti mana. Gue jadi kasian ama malaikat-malaikat pencatat amal, soalnya mereka jadi nganggur gara-gara panitia kayak gini. Wakkakkak..

6. Royalti akan digunakan untuk pembuatan event lomba selanjutnya

Ni panitia mau bikin event apa mau arisan sih? Lagian siapa elu, maksa kita terbebani bikin lomba?

7. Penjurian naskah ditentukan oleh "like" terbanyak

Kalo nggak bisa menilai ataupun males dan nggak ada waktu buat menilai, ngapain bikin lomba? Paling alibinya gini, supaya punya keberanian menunjukkan ke publik, supaya tahu strategi promosi. Kenapa gak sekalian pake sms? Ketik REG spasi TOLOL kirim ke panitia. Wakkakkakkak.... Kompetisi budaya AFI menggila. Dan yang diuntungkan siapa? Silahkan mikir sendiri

8. Kontributor mendapatkan paket buku

Masak naskah kita di buku A kita dikasihnya buku B. Dan yang lebih menyedihkan, itu buku adalah buku sisa cetak yang nggak laku. Ha..ha.. Naskah kita cuma dihargai 1 buku sisa. Lalu buku kita dicetak ratusan bahkan ribuan eksemplar. Royalti? Dikantong panitia. Kan mereka udah rela berbaik hati memberi buku sisa cetak. Wakkakkak...

9. Seluruh Kontributor mendapatkan e-sertifikat tapi tidak ada royalti

cuma itu? Baru belajar photoshop apa corel mas? Bangga banget bisa bikin gituan sampai-sampai harganya mahal banget. Sini gue ajarin. Gratis, gak usah bayar pake naskah



Oke, dari kesemuanya diatas gue bukan menghina mereka ataupun menentang. Sebab gue nggak punya daya buat menghalangi mereka. Gue cuman bisa pesen buat penulis-penulis baru supaya waspada. Sayangi naskahmu. Meski kamu penulis amatir, gue yakin ada diantara kamu yang punya naskah hebat. Rugi kalau jatuh ketangan panitia-panitia kayak diatas.

Ha..ha.. Tau nggak lu kenapa gue bisa nulis begini? Soalnya gue udah ngalamin semua. Sakit ati bener... Dulu gue lagi semangat buat ikut event demi mengasah kemampuan, mencari nama, tanpa pernah melihat ketentuan-ketentuan. Alhasil, ya gini. Banyak naskah gue dibukukan tapi nggak semua bisa gue nikmati hasil ataupun ngeliat bukunya kayak apa.

Sebenarnya gue tidak mempermasalahkan seberapa besar royalti. Namanya antologi pasti dibagi beberapa penulis. Gue gak permasalahkan nominalnya, toh jika dalam jumlah sedikit pasti bakal gue ikhlasin. Hanya saja caranya bukan begini. Transparanlah dan berikan hak para penulis naskah di buku itu.

Buat teman-teman yang senasib, selektiflah memilih event lomba. Sayangi naskahmu sebagaimana kamu menyayangi anumu.

14 Februari 2012

HAPPY FUCK'LENTINE DAY

Sayang, bulan telah disebut Februari. Bulan kedua dalam urutan kalender. Konon katanya bulan ini adalah bulan kasih sayang. Dimana cinta, kasih sayang diobral dan cuci gudang. Konstelasi cinta seakan terbentuk sempurna. Kepompong duka sirna, menjelma kupu-kupu bahagia. Orang-orang mendadak membutuhkan cinta lebih besar dari kadar biasanya, sekedar untuk melewatkan tanggal berangka empat belas di bulan ini, bulan kelahiranmu. Betapa cinta seolah dicecerkan dimana-mana. Bersama cokelat, bunga, dan hadiah-hadiah serba merah jambu. Cintakah itu yang berwarna merah jambu? Orang mewarnainya demikian.
Sungguh tidak rasional bukan? Ah, tapi cinta memang sering tak rasional sayang. Sama seperti tidak rasionalnya cinta kita yang mampu bertahan sampai delapan ratus sembilan puluh lima hari hingga hari ini. Aku si angkuh yang tengil dan kau si biru yang pencemburu. Dan kita mampu bersama - dalam cinta? - yang kutahu bukan merah jambu.

Mari sayang, kita terkekeh melihat lucunya kedunguan akan tradisi ini. Entah siapapun yang memulai, mungkin dia tengah terbahak di liang kuburnya. Sebab telah berhasil membuat hari yang penuh keanehan ini. Menghanyutkan darah muda terombang-ambing mengikuti kesalahkaprahan yang tak dipahaminya. Bukankah Idul Fitri adalah hari kasih sayang yang lebih pantas kita banggakan? Hari yang lebih mulia untuk mengagungkan cinta pada sang Pencipta dan menebar kasih sayang diantara manusia.

Atau mungkin orang yang memulai tradisi semacam ini sedang menangis di dalam kuburnya, sebab harapannya telah pudar dengan esensi cinta yang hilang. Orang mulai mengukur kasih sayang dengan seberapa banyak cokelat yang didapat, dengan berapa banyak waktu dihabiskan untuk saling mengeksplorasi tubuh, berapa serunya pesta yang dilewatinya.

Mendadak semua saling jatuh cinta. Semua menjadi sentimentil. Menghabiskan uang untuk sekedar makan malam yang mahal, saling bertukar hadiah, lalu sesudahnya mencari utangan untuk menutupi biaya yang sudah keluar.

Udara dipenuhi dengan kata : I LOVE YOU. Sesak dan pengap. Orang-orang yang dikirimi kata tersebut banyak yang mengangguk. Meski dalam hatinya timbul keraguan, mereka tetap mengangguk sebab tak rela menghabiskan bulan merah jambu ini sendiri. Demi eksistensi gengsi dan harga diri. Mereka ingin berdua-duaan menanggung asmara. Lalu bertebaran cerita cinta syahdu. Cerita remaja membosankan mengatasnamakan pengorbanan. Dan kemudian dengan bangganya mereka bilang bahwa itu nyata, bukan fiksi. Kisah Nagita yang rela mati demi cinta, serupa kebohongan kisah Juliet yang melegenda. Ada pula kisah Silma gadis buta, memendang cinta pada pangeran berkuda. Mencintai pangeran lewat suara merdunya. Padahal Silma tak tahu bahwa wajahnya pangeran tak beda jauh dengan kuda. Jadi meskipun pangeran, tak ada jaminan ia rupawan.

Sungguh aku heran sayang, mengapa mereka bisa menulis demikian?

Sayang, ini sudah bulan kedua dalam urutan kalender. Sudah kusiapkan puisi untuk kubacakan di hari ulang tahunmu nanti. Puisi bersampul wangi yang kutulis di atas kertas buram. Dinding kamar yang usang seolah mengejekku bahwa hanya kertas buram yang mampu kupersembahkan. Hujan menyergapku dalam pengap kamar kala kutulis puisi ini, menggambarkan hidupku yang juga usang dalam tubuh dekil ini.

Sayang, seandainya engkau hujan, aku adalah tanah basah yang terinjak peziarah. Begitu dekat bukan? Hingga masih dapat kucium aroma rambutmu meski kita berbatas ruang. Hingga masih bisa kutulis puisi yang hanya, hanya dan hanya untukmu sayang.



Selamat Ulang Tahun Sayang

Hujan turun dari langit beludru
Rinai terkibar selembut rambutmu
Jerit malam senandungkan syahdu
Menangkap rindu sedemikian haru
Dingin menyajikan kelu
Ayunan pepucuk daun berpacu di pelana kelabu
Semua berseru, selamat ulang tahun sayangku

Kekasihku, selamat tahun bungadonaku
Dengan puisi aku bernyanyi, untukmu
Dengan puisi aku bercinta, denganmu
Dengan puisi kulayangkan rindu, padamu
Dengan puisi aku berdo'a, untukmu
Terima kasih untuk gebu rindu dan cemburu
Yang merah, yang biru, yang putih, juga abu-abu
Sayangku, I Miss You

Selamat ulang tahun sayangku
Hujan membingkai mata
Menjadi irama saat kubuka album kita
Ada potret senyum dan tawa
Ada rengekanmu yang manja

Selamat ulang tahun sayangku
Tambahlah pesonamu
Tambahlah kedewasaanmu
Tambahlah mataharimu
Bentangkan sayap jingga dan ungu
Aku tak akan pernah memaksamu
Jadi apa inginku
Sebab kuingin kamu, jadi apa adanya dirimu
Terimakasih untuk cintamu yang selalu dan selalu membuatku mencintaimu

Petak kepengapan, 11 februari 2012

Sayangku, ini sudah bulan februari. Di angka lima belas nanti adalah hari ulang tahunmu, lewat sehari dari hari yang katanya merah jambu. Sungguh, tak hendak kuhadiah apapun, kecuali ingin memberimu sebuah penderitaan panjang yang melelahkan. Sebab sadarilah, cinta yang kutahu itu bukan merah jambu, tetapi hitam. Cinta itu hitam, ia menggelapkan. Cinta itu hitam, penuh penderitaan.


Saya Jadi Eksis Dengan Internet

Dewasa ini, internet menjadi sesuatu yang tak asing bagi kita. Hampir semua golongan kini tahu dan mudah untuk mencoba yang satu ini. Kecanggihan teknologi memaksa kita untuk ikut andil dalam penggunaannya. Tak ayal, jika internet kini menjadi alternatif baru untuk kehidupan. Bisnis, marketing, perniagaan, jasa, dan masih banyak lagi kegiatan manusia yang kini dipermudah oleh internet. Hal ini secara tidak langsung membentuk dunia baru dalam kehidupan. Dunia baru yang lebih dikenal dengan Dunia Maya. Sebuah dunia dengan segala kegiatan yang mampu menggantikan kegiatan dalam dunia nyata. Sehingga bukan hal aneh jika ada seseorang yang tiba-tiba berubah hidupnya hanya gara-gara internet. Perubahan yang didapat dari dunia maya.

Seperti halnya saya. Saat ini saya merasa eksis. Eits... Bukan terlalu Ge Er, tapi memang internet membawa perubahan besar bagi saya. Saya yang notabene hanya lulusan STM saja tentu gaptek dengan hal yang berbau teknologi.

Sekitar empat empat silam, saya bukanlah siapa-siapa. Jujur, menyalakan komputer saja tidak bisa, sebab saya juga tidak pernah punya komputer. Tapi kemudian lambat laun saya mampu mengejar ketertinggalan, bahkan lebih baik dari teman yang dulunya terlihat jago internet.

Bermula saat saya telah bekerja di sebuah perusahaan AutoParts, di Kota Karawang. Saya bisa membeli Ponsel yang bisa digunakan untuk internet. Waktu itu, saya sudah punya Ponsel Nokia jadul sehingga kemudian memiliki dua ponsel. Ponsel yang baru, saya memilih Provider Axis. Waktu itu sedang Promo karena merupakan pendatang baru di Indonesia. Namanya promo, pasti ada kelebihannya. Lagipula waktu itu, SPG nya seksi, plus beli dua perdana dapat gantungan kunci. Alhasil, terpilihlah Axis yang saya percayakan untuk Ponsel baru saya yang diniatkan untuk ber-internet ria.

Setelah saya mencobanya, ternyata ada promo internet gratis. Lalu saya mengenal yang namanya aplikasi chat Mig33. Dari sinilah semua berawal hingga saya menjadi eksis dengan internet. Hampir 24 jam dalam sehari waktu saya, banyak tersita untuk Mig33.

Oh ya, saya sempat takut dengan kartu Axis. Ingat dengan maraknya SMS Merah yang katanya bisa membunuh itu? Saya sempat beranggapan kartu Axis saya ini mengandung sms Merah itu. Karena, waktu itu hape saya gunakan untuk menelpon dan sms tapi pulsa tidak berkurang. Terlebih lagi, ketika saya mengirim satu sms ke teman saya, kadang yang terkirim bisa lima sampai enam buah sms. Sedangkan saat itu banyak stasiun TV memberitakan sms merah. Tapi lama-lama saya paham, mungkin Provider baru yang masih mengalami Bugs.

Kembali ke Mig33, sebab dengan Mig33 saya tahu apa itu jaringan, apa itu aplikasi, bagaimana membuatnya, dan segala hal baru yang makin membuat saya ingin mendalaminya. Karena maraknya aplikasi Kick Mig33 lewat Komputer, saya nekad kredit komputer waktu itu. Dengan koneksi modem menggunakan Ponsel, Axis jadi andalan saya untuk internetan. Saya mencoba mempelajari bagaimana membuat aplikasi dengan mengikuti beberapa forum. Bahasa Pemprograman seperti Visual Basic, AHK, dan C++ terpaksa saya pelajari demi menjadi "pemenang" dalam dunia Mig33. Akhirnya tiga tool berhasil saya buat. Pada masa itu sempat menjadi andalan. Tapi untuk sekarang sudah tidak berlaku, sebab Mig33 sudah berubah.

Dalam perjalanannya mempelajari Bahasa Pemprograman, timbul ketertarikan saya untuk mempelajari Script HTML untuk menjadi Webmaster. Dengan internet, segalanya mudah. Saya membaca beberapa tutorial yang berhasil saya kumpulkan. Mencari tahu bagaimana isi web itu, apakah hosting itu, bagaimana memilih script yang cocok, dan tetek bengek lain yang saling berhubungan. Belajar dari peperonity dan xtgem, akhirnya saya mampu membuahkan situs http://www.pantura.net dan forum http://www.pantura.org. Juga blog di http://zonakeras.blogpot.com. Silahkan kunjungi, dan berkomentar apakah itu buatan seorang anak lulusan STM? Mungkin anda akan meragukan.

Hampir setahun ini, saya justru kepincut untuk menjadi penulis. Dari tahun 2009 blog ini hanya berisi tulisan curhat saja. Bukan tutorial ataupun tips n trick all about internet ataupun komputer. Sebab memang pengetahuan saya terbatas. Sedangkan untuk menjadi penulis, saya punya bakat. Sampai awal tahun ini, sudah lima buku antologi saya terbitkan.


Setelah anda membaca cerita saya, mungkin anda akan bertanya, lalu dimanakah letak eksisnya? Begini, selama kurun waktu saya mengenal internet, setidaknya saya pernah dikagumi beberapa miggers (sebutan untuk pengguna mig33). Saya dianggap master IT. Sampai-sampai ada yang mau transfer uang dan minta diajarkan membuat aplikasi kick dengan Visual Basic. Dan yang pasti, ketika saya pulang kampung, saya punya banyak penggemar karena saya yang ikut mendirikan komunitas mig33 di Batang. Hal ini membuat saya dikenal banyak teman baru.

Tidak percaya? Silahkan search google dengan keyword ali_sakit. Ha..ha..ha..

*) waduh ma'af forum pantura.org saya jadi ke-hack. Sedang scriptnya di PC yg rusak

12 Februari 2012

AWANLAH AKU

Begitulah kau, awan, selalu dituding sebagai pelaku utama turunnya hujan
Padahal matahari yang mengumpulkan tetes demi tetes dari bumi di perutmu.

Maka awanlah aku.
Dusta yang terhimpun itu darimu.

10 Februari 2012

TIPS LOLOS SELEKSI DAN MENJADI PEMENANG

Salam sakit dan tetap sakit !


Postingan kali ini, gue mau ngasih gambaran bijimana naskah lu lolos and sesuai yang diharapkan ketika mengikuti event kepenulisan.
Meski nggak selalu menang dalam lomba, gue cuman pengen berbagi apa yang gue tahu. Ini semata-mata buat kita-kita yang masih baru di blantika literasi indonesia dan mancanegara. Mencoba ngasih asupan gizi dan mental dasar supaya lebih punya spirit ketika berkali-kali gagal. Buat yang udah jago jangan menghina ye? satu guru satu ilmu jangan adu panco.

Oke, langkah pertama supaya naskah lu jadi juara, atau minimal masuk dalam deretan naskah yang dibukukan :

1. Berdo'a , kenapa gue nyuruh lu berdo'a? Kata guru ngaji gue "afdholul ibadah at du'a", sebaik-baik ibadah adalah do'a. Sholat aja bacaannya isinya do'a semua. Selain itu biar kagak tergolong takabur. Gue belum pantes jadi imam buat ngajarin cara lu doa. Lu pasti paham lah do'a nya gimana. Jangan baca do'a mau makan ye? Ntar naskah lu bisa-bisa ampe panitia ada bekas gigitannya.

2. Bisa nulis. Pada sekolah semua kan? Artinya, kalo lu mau gerakin tangan, lu bisa jadi pemenang. Jangan cuma berangan-angan. Ah, deadline masih lama, ah ntar aja, ah nanti kalo udah deket deadline, ah ih ah ih doang kapan mulainya? Tetep kosong naskah lu. Judul aja boro-boro mungkin.

3. Jangan melenceng dari tema jika mereka menentukan tema. Begini maksud gue, misal temanya tentang cinta. Jangan sampe lu nulis kisah cinta lu ama kartun Sponge Bob dengan alasan lu cinta tu pilem. Kalau lu mau cerita hal itu ya kalau misalkan ada kenangan indah ama doi tentang tokoh itu. Misal mukanya ngingetin dia. Berati muka doi lu gak jauh beda tuh ama busa cuci piring.

4. Ketika yang dicari True Story atau kisah nyata, maka ceritakan apa yang pernah lu alami. Jang ngarang. Jadi sajikanlah apa yang pernah lu alami. Kagak pernah cinta-cintaan? Malang bener nasib lu man..! kan tentang cinta nggak harus sama pacar. Bapak Ibu Kakek Nenek Sodara Sahabat. Kagak punya cerita juga tentang mereka?. Wah, monoton banget hidup lu? Ha..ha..ha..

5. Sajikan dengan baik. Gini, jika lu punya ide hebat tapi penyajian buruk hasilnya bakal jadi buruk. Seperti halnya makanan, daging dimasak pake bumbu yang kurang sedap sama tempe goreng yang dimasak enak, mending gue milih tempe goreng yang enak. Daging mahal sih.

6. Ada yang akan elu perjuangkan. Bila event dibukukan, biasanya panitia berharap membawa manfaat bagi pembaca. Ada pesan moral yang dibidik agar terserap pembaca.

7. Meski kita amatiran, belajarlah jadi profesional. Penulis unggul itu hidupnya selalu dinamik, karena mengalirkan gagasan-gagasan besar bagi sekitarnya. Menebar manfaat bagi umat di dunia. Tanyakan ke hati lu ingin memberikan apa, bagaimana, dan kemana?

8. Permainan diksi sangat berperan. Menurut lu, "panjang angan-angan" ataukah "angan-angan yang panjang" ? Atau "diam membisu" diganti "lidah mengelu" ? Bagaimana yang lebih indah? pelajarilah dari segala sisi.

9. Hanyutkan juri dengan kalimat didalam narasinya. Misalkan lu mau cerita pernah makan bangkai tikus. Ceritain sampai yang membaca bisa mual, kalo perlu muntah-muntah. Nah lu berhasil menghanyutkan pembaca.

10. Banyak membaca tulisan sejenis. Tapi jangan salah sasaran. Mentang-mentang ketika ada event True Story, lu jangan bacanya cerita seks.

11. Jangan minder. Ibaratnya, belum perang lu udah pura-pura mati duluan. Gini, misalkan ada karung berisi penuh. Lu bakal mengira berat banget tuh.siapa sangka kalau itu ringan? Bisa saja sekarung penuh itu isinya kapuk doang !
12. Abaikan teori dahulu. Tabrak semua aturan. Biarin tangan lu nulis
ngalir. Biarin tangan lu nari-nari. Tapi jangan ampe kayak kucing kurap atau cacing pita kepanasan. Artinya, bikin adonan mentah dulu nanti baru dipersolek dengan mengindahkan aturan.

13. Nggak ada ide buruk. Jangan remehkan idemu. Tuangkan idemu meski ide aneh. Ah, gue jadi inget orang-orang yang
punya ide nyleneh tapi sukses. Sebut aja Rinto harahap mengganti kata "tak mungkin" dengan "buah semangka berdaun sirih". Atau Gombloh yang mengganti kata "muak" dengan "tai kucing rasa coklat". Lalu Ebiet G. Ade mempopulerkan "bertanya pada rumput yang bergoyang". Nha apa ide lu?
14. Aktif komunikasi dengan penulis lain. Bergabunglah dalam grup kepenulisan, forum, atau mailing list tentang kepenulisan. Hal ini bakal mengasah kepekaan lu plus dapat ilmu dan teman baru. Katakanlah dalam forum, aktiflah bertanya disana. Jangan suka nyepam, postinglah yang bermanfaat. Bercandalah sesuai kemanusiaan yang adil dan beradab ye? paham kan...? tapi jangan ampe lu berak di forum. Kagak ada aer dodol...!

15. Sebuah event biasanya justru mencari nama-nama penulis baru. Terlaksana atas dasar memberikan api semangat penulis baru. Nah, inilah kesempataan baik. Jadi maksimalkan potensi akan jadi pertimbangan buat juri. Semakin lu kagak tenar, Pak RT kagak kenal lu, pak Lurah kagak kenal lu, ini semakin besar kesempatan lu menang. Tapi jika naskah lu baik. Hal ini adalah kesempatan baik buat lu nunjukin siapa elu sebenarnya... Berubahlah menjadi RANGER kuning...!!


ada pertanyaan? terimakasih kalo kagak ada ye...

Salam sakit dan tetap sakit

07 Februari 2012

MATEMATIAN [Miskin Itu Anugrah]

Kamu percaya jika nilai matematikaku 9,67? Mungkin akan percaya kalau aku berkata bahwa aku menggilai matematika. Tapi kamu bakal tak percaya bila tahu betapa aku mengutuk pelajaran memuakkan itu.


Di tahun terakhir bangku kelas putih abu-abu pelajaran itu menyiksaku. Betapa tidak, seminggu harus bertemu dengan tiga jam dalam tiga kali tiap minggu. Alogaritma, integral, perbandingan, buat apa dipelajari?otakku sudah penuh dengan hitungan. Sekolah di bidang Teknik Mesin yang selalu dijejali hitungan harus ditambah dengan urusan matematik. Belum lagi matematika yang ditempatkan di akhir jam pelajaran membuatku semakin terpenjara karena sering melampaui batas bel pulang. Kami yang notabene satu kelas berkaum adam harus rela menahan hasrat ketika kelas Akuntansi bubar. Dan itu sama saja membunuh rutinitas kami menggoda cewek Akuntansi sepulang sekolah. Secara otomatis senin, selasa, dan kamis harus gigit jari karena guru matematika yang tak tahu diri melewati batas jam pelajaran. Demi persiapan ujian, alasannya.

Waktu berlalu, hari berganti. Menjelang ujian nasional kelulusan, aku mengikuti Try Out matematika. Dan hasilnya, nilaiku 2,3. Sedangkan waktu itu standard kelulusan adalah 7. Dalam satu kelas ada dua yang tak lulus Try Out. Aku dan Lian.

Esoknya setelah pengumuman, aku dan Lian dipanggil ke kantor. Pak Firman, guru matematika berjenggot yang katanya mirip Raja Dangdut (bagiku malah seperti Raja Fir'aun) menasehati kami. Seperti hampir menangis raut mukanya kala menatapku. Dia berharap besar angkatan kami semua harus lulus. Lalu aku pulang tanpa perubahan, tetap membenci matematika yang memaksa otak untuk bekerja mati-matian.

Wuah, hidup memang aneh. Kemarin Pak Firman memasang raut muka memelas, hari ini kembali menjadi Fir'aun. Selain tetap dengan pelajaran menyebalkan, dia juga memberi surat padaku. Apalagi kalau bukan masalah uang bulanan. Ini Lembaga Pendidikan atau Perusahaan Kapitalis, batinku. Baru kemarin kita membayar pak, ini belum satu bulan. Semua harus dibayar sebelum ujian kelulusan, begitu tertulis dalam surat.

Rasanya begitu berat menyerahkan surat pemberitahuan ini pada Bapakku. Sudah tiga hari ini Bapak tidak kerja. Profesinya sebagai kuli bangunan terkadang harus terhenti jika memang tak ada garapan. Kerja sehari habis untuk makan sehari. Kalau tidak kerja begini, apa yang bisa kami makan?hanya mengandalkan belas kasih tetangga yang mau meminjamkan uang.

Malamnya ketika Bapak membaca surat yang kuberikan, Bapak lebih banyak terdiam. Aku memilih tidur mengingat telah larut malam. Paginya, saat aku beranjak sholat Shubuh Bapak dan Ibu sudah tidak di tempat. Aku melanjutkan rutinitas biasa hingga menjelang jam berangkat sekolah. Tiba-tiba Bapak dan Ibu pulang. Mata Ibu terlihat sebam ketika menuju dapur menyiapkan sarapan. Bapak memberiku uang dua ratus ribu rupiah untuk mencicil pembayaran uang bulanan. Berarti kurang empat ratusan lagi. "Bapak akan secepatnya lunasi, tapi kamu harus janji nilai ujianmu harus bagus. Supaya bisa cepat dapat kerja" begitu kata Bapak.

Siapa yang bisa memadamkan sinar matahari?seperti halnya merubah jalan pikiranku. Esoknya Ibu bercerita bahwa uang kemarin adalah hasil meminjam dari Pak Khambali, tetangga jauh yang bukan siapa-siapa. Karena sebelumnya telah mencoba meminjam uang kepada Paman namun tak ada, mungkin tepatnya tidak dipinjami. Karena aku tahu pasti dia punya. Ibu menangis di hadapan Paman waktu mengutarakan tujuannya, tapi tak ada rasa iba. Dengan kenyataan yang kulahap tanda sadar, membuat jalan pikiranku berubah. Tiga mata pelajaran ujian harus aku kuasai.

Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika adalah mata pelajaran yang di ujikan. Semuanya tak bermasalah meski tak terlalu menonjol, kecuali Matematika. Terkadang keterpaksaan jauh lebih efektif dari sebuah pembelajaran. Dengan himpitan keadaan memaksaku mencintai matematika. Mencoba soal-soal bekas ujian tahun kemarin, menanyakan yang tak bisa, meminta kembali diterangkan. Tak jarang ketika sore aku kerumah Pak Firman meski hanya minta penjelasan satu biji soal yang kuanggap belum paham.

Hari ujian telah datang, senyumku mengembang tanpa paksaan. Satu hal yang selalu terbayang ketika mengerjakan soal, aku harus lulus lalu bekerja untuk sekolah adikku. Aku ingin Bapak tak perlu memikirkan ekonomi keluarga di masa tuanya. Aku yakin aku adalah anak laki-laki yang mampu dibanggakan.

Pengumuman kelulusan tiba, aku senang bukan kepalang. Puas karena inilah final dari perjuangan belajar. Tapi aku sadar inilah awal kehidupan untuk sebuah kedewasaan. Dan aku membuktikan bahwa keterpaksaan jauh lebih efektif dari sebuah pembelajaran.

01 Februari 2012

TIPS SUPAYA TIDAK PLAGIAT

Ada temen gue yang bikin cerpen karena terinspirasi sebuah novel. Lalu dia nanya, ama gue apa itu termasuk plagiat? Soalnya banyak terjebak sama kalimat-kalimat yang bagus dalam novel itu. Gimana ya biar nggak plagiat? Nah, gue nyoba jelasin setahu gue.

Gimana supaya kita nggak jatuh dalam bentuk plagiat?

Jujur. Jujurlah kepada diri sendiri. Gue kira nggak usah orang lain yang mutusin bahwa elo seorang plagiat dengan deretan bukti yang ditunjukkan orang lain. Sebelum kita mau menerbitkan sebuah karya, tanyalah pada diri sendiri tentang apakah karya ini merupakan plagiat atau nggak.

Lalu gimana kalau suara hati kita berkata bahwa itu nggak plagiat, hanya saja di dalamnya ada beberapa tulisan yang meniru gagasan orang lain? Ya, asal kita bisa mempertanggungjawabkan, kenapa kita harus takut? Sekali lagi, meniru. Bukan menjiplak. Artinya isi sama namun penyajian berbeda. Hal seperti ini bukan suatu cela. Meniru bisa membantu kita supaya menemukan karakter dalam kita menulis. Artinya begini, di dunia ini nggak ada hal baru. Maksudnya pasti sudah pernah ada namun berinovasi. Katakanlah elu pernah baca kalimat "Wakt
u adalah hal yang paling berharga". Lalu elu suka banget sama gagasan itu. Kenapa nggak elu coba ubah menjadi kalimat "Tahukah hal yang paling berharga dalam hidup? Adalah detik yang baru saja kita lewati". Isi sama namun beda penyajian bukan?

Kadang, memang ada orang yang sudah kebelet kepingin menulis tapi macet atau kehabisan kata-kata. Gue ingin nunjukin buat orang semacam ini bahwa sebenarnya bukan soal dia nggak bisa atau nggak mampu menulis. Tapi yang bikin dirinya macet menulis biasanya ketidaktersediaan bahan baginya menulis. Maksud gue gini, orang ini sebenarnya punya banyak pengalaman menarik tapi dia nggak tahu gimana memulai apa yang ingin ditulisnya.


Atau bisa jadi sebaliknya. Pengen menulis tapi miskin ide. Nah, buat memudahkan agar kita dapat menuliskan sesuatu berdasarkan pengalaman, kita harus bersikap jujur kepada diri sendiri. Kalau kita menipu diri -dengan mengatakan bahwa di dalam diri tersimpan banyak pengalaman berharga yang layak dibagikan padahal sebenarnya tidak ada- tentu, akan kesulitan dalam menuangkan pengalaman dalam bentuk tertulis. Meskipun, ya meskipun, kita sudah dibantu oleh seorang penulis besar.

KOMENTAR Via Facebook