18 Februari 2012

Sayangi Naskahmu Sebagaimana Kamu Menyayangi Anumu

Selamat Pagi

Di akhir pekan kayak gini, gue cuman di kost. Nggak ada yang istimewa. Bisa dibilang akhir pekan adalah hari mencuci pakaian. Ha..ha..ha..

Akhir-akhir ini gue lagi gandrung ikut event kepenulisan. Event yang masih dalam lingkup Grup efbe(facebook). Cuman gue rada gimana gitu sama beberapa event yang bikin gue geli. Beberapa peraturan dan ketentuan yang lucu banget.

Contoh beberapa point yang menurut gue lucu bin aneh.

1. Semua naskah yang masuk, menjadi milik panitia.

What? Itu artinya semua naskah yang dikirim peserta baik yang menang atau yang kalah sama-sama bakal kehilangan naskah? Itu bikin event atau lintah darat?

2. Bagi kontributor yang terpilih, WAJIB invest uang untuk biaya penerbitan dan pembelian buku.

Kalau kere, kagak punya duit, mending nggak usah bikin event dah. Nyusahin peserta. Karena peserta mungkin lebih kere dari anda. Kalau mau bikin event lomba modal donk.

jika kasusnya begini, gue justru lebih respect dengan judul proyek antologi, bukan event lomba. Sebab jika judulnya event lomba artinya ada kompetisi. Lhah kalo kere nggak usah jadi panitia. Itu bakal merusak citra anda. Bukan gue ngelarang ataupun curiga narik untung, hanya saja gue menyayangkan kenapa judulnya event lomba gitu lhoh? Artinya, panitianya aja nggak bisa ngartiin event lomba dengan event proyek gotong royong. Lantas gimana mau menilai?

3. Kontributor antologi tidak mendapat royalti

Ketawa gue baca kayak gini. Ini lomba apa preman pasar sih? Pengumpulan naskah untuk keuntungan pribadi. Buat orang kayak gini gue sumpahin matinya berdiri. Cuma gara-gara alasan "sebab hanya juara 1, 2, dan 3 sudah mendapatkan hadiah. Guobloook !! Juara 1, 2, 3 dapet hadiah tapi yang dibukukan 60 naskah.

4. Kontributor tidak mendapatkan buku terbit

Dan yang lebih parah, udah nggak dapet buku terbit, nggak dapet royalti, nggak dapet hadiah apapun. Lalu mengapa mereka tanpa dosa mengambil naskah kita? Apa karena kita nggak punya nama dan tolol dalam masalah ini?

5. Seluruh kontributor DIWAJIBKAN invest untuk cetak buku. Royalti akan disumbangkan ke panti. Kami jamin anda akan mendapatkan amal kebaikan dari tulisan anda

Amal panti pijat??? Aneh aja gitu lhoh. Ni panitia apa malaikat sih sebenarnya? Ko' bisa menjamin amal. Bukankah amal yang diumbar hanya akan mengurangi pahala? Dan yang perlu panitia tahu, bisa jadi justru salah satu kontributornya malah lebih pantas mendapat sumbangan sebab dia faqir wal miskin. Udah gitu nggak ada juntrungannya panti mana. Gue jadi kasian ama malaikat-malaikat pencatat amal, soalnya mereka jadi nganggur gara-gara panitia kayak gini. Wakkakkak..

6. Royalti akan digunakan untuk pembuatan event lomba selanjutnya

Ni panitia mau bikin event apa mau arisan sih? Lagian siapa elu, maksa kita terbebani bikin lomba?

7. Penjurian naskah ditentukan oleh "like" terbanyak

Kalo nggak bisa menilai ataupun males dan nggak ada waktu buat menilai, ngapain bikin lomba? Paling alibinya gini, supaya punya keberanian menunjukkan ke publik, supaya tahu strategi promosi. Kenapa gak sekalian pake sms? Ketik REG spasi TOLOL kirim ke panitia. Wakkakkakkak.... Kompetisi budaya AFI menggila. Dan yang diuntungkan siapa? Silahkan mikir sendiri

8. Kontributor mendapatkan paket buku

Masak naskah kita di buku A kita dikasihnya buku B. Dan yang lebih menyedihkan, itu buku adalah buku sisa cetak yang nggak laku. Ha..ha.. Naskah kita cuma dihargai 1 buku sisa. Lalu buku kita dicetak ratusan bahkan ribuan eksemplar. Royalti? Dikantong panitia. Kan mereka udah rela berbaik hati memberi buku sisa cetak. Wakkakkak...

9. Seluruh Kontributor mendapatkan e-sertifikat tapi tidak ada royalti

cuma itu? Baru belajar photoshop apa corel mas? Bangga banget bisa bikin gituan sampai-sampai harganya mahal banget. Sini gue ajarin. Gratis, gak usah bayar pake naskah



Oke, dari kesemuanya diatas gue bukan menghina mereka ataupun menentang. Sebab gue nggak punya daya buat menghalangi mereka. Gue cuman bisa pesen buat penulis-penulis baru supaya waspada. Sayangi naskahmu. Meski kamu penulis amatir, gue yakin ada diantara kamu yang punya naskah hebat. Rugi kalau jatuh ketangan panitia-panitia kayak diatas.

Ha..ha.. Tau nggak lu kenapa gue bisa nulis begini? Soalnya gue udah ngalamin semua. Sakit ati bener... Dulu gue lagi semangat buat ikut event demi mengasah kemampuan, mencari nama, tanpa pernah melihat ketentuan-ketentuan. Alhasil, ya gini. Banyak naskah gue dibukukan tapi nggak semua bisa gue nikmati hasil ataupun ngeliat bukunya kayak apa.

Sebenarnya gue tidak mempermasalahkan seberapa besar royalti. Namanya antologi pasti dibagi beberapa penulis. Gue gak permasalahkan nominalnya, toh jika dalam jumlah sedikit pasti bakal gue ikhlasin. Hanya saja caranya bukan begini. Transparanlah dan berikan hak para penulis naskah di buku itu.

Buat teman-teman yang senasib, selektiflah memilih event lomba. Sayangi naskahmu sebagaimana kamu menyayangi anumu.

4 komentar:

Very Barus mengatakan...

maka itu...ati2 penipuan berkedok LOMBA..dari mana judulnya kita harus keluar dana lagi...????? mending di remove aja tuh panitia...

Didi mengatakan...

Iya bener juga mas, tapi ya wallahu a'lam sih mas. Yang suka kurang jelas itu yang katanya untuk disumbangkan ke panti2.

WindaAsnita :) mengatakan...

wah, gua setuju banget sama artikel ini. kebanyakan event-event lomba bermodalkan publikasi di facebook bisanya cuman nyari keuntungan sendiri. ngga dapet royalti, mesti bayar, kadang hadiahnya cuman pulsa sama sertifikat online. kudu selektif emang kalo pengen ikutan.

Artha Amalia mengatakan...

Ummm.... Banyak panitia yang bilang 'Karena ini dibukukan di penerbit indie, maka kontributor tidak mendapat royalti'. HAH!

KOMENTAR Via Facebook