Kamu percaya jika nilai matematikaku 9,67? Mungkin akan percaya kalau aku berkata bahwa aku menggilai matematika. Tapi kamu bakal tak percaya bila tahu betapa aku mengutuk pelajaran memuakkan itu.
Di tahun terakhir bangku kelas putih abu-abu pelajaran itu menyiksaku. Betapa tidak, seminggu harus bertemu dengan tiga jam dalam tiga kali tiap minggu. Alogaritma, integral, perbandingan, buat apa dipelajari?otakku sudah penuh dengan hitungan. Sekolah di bidang Teknik Mesin yang selalu dijejali hitungan harus ditambah dengan urusan matematik. Belum lagi matematika yang ditempatkan di akhir jam pelajaran membuatku semakin terpenjara karena sering melampaui batas bel pulang. Kami yang notabene satu kelas berkaum adam harus rela menahan hasrat ketika kelas Akuntansi bubar. Dan itu sama saja membunuh rutinitas kami menggoda cewek Akuntansi sepulang sekolah. Secara otomatis senin, selasa, dan kamis harus gigit jari karena guru matematika yang tak tahu diri melewati batas jam pelajaran. Demi persiapan ujian, alasannya.
Waktu berlalu, hari berganti. Menjelang ujian nasional kelulusan, aku mengikuti Try Out matematika. Dan hasilnya, nilaiku 2,3. Sedangkan waktu itu standard kelulusan adalah 7. Dalam satu kelas ada dua yang tak lulus Try Out. Aku dan Lian.
Esoknya setelah pengumuman, aku dan Lian dipanggil ke kantor. Pak Firman, guru matematika berjenggot yang katanya mirip Raja Dangdut (bagiku malah seperti Raja Fir'aun) menasehati kami. Seperti hampir menangis raut mukanya kala menatapku. Dia berharap besar angkatan kami semua harus lulus. Lalu aku pulang tanpa perubahan, tetap membenci matematika yang memaksa otak untuk bekerja mati-matian.
Wuah, hidup memang aneh. Kemarin Pak Firman memasang raut muka memelas, hari ini kembali menjadi Fir'aun. Selain tetap dengan pelajaran menyebalkan, dia juga memberi surat padaku. Apalagi kalau bukan masalah uang bulanan. Ini Lembaga Pendidikan atau Perusahaan Kapitalis, batinku. Baru kemarin kita membayar pak, ini belum satu bulan. Semua harus dibayar sebelum ujian kelulusan, begitu tertulis dalam surat.
Rasanya begitu berat menyerahkan surat pemberitahuan ini pada Bapakku. Sudah tiga hari ini Bapak tidak kerja. Profesinya sebagai kuli bangunan terkadang harus terhenti jika memang tak ada garapan. Kerja sehari habis untuk makan sehari. Kalau tidak kerja begini, apa yang bisa kami makan?hanya mengandalkan belas kasih tetangga yang mau meminjamkan uang.
Malamnya ketika Bapak membaca surat yang kuberikan, Bapak lebih banyak terdiam. Aku memilih tidur mengingat telah larut malam. Paginya, saat aku beranjak sholat Shubuh Bapak dan Ibu sudah tidak di tempat. Aku melanjutkan rutinitas biasa hingga menjelang jam berangkat sekolah. Tiba-tiba Bapak dan Ibu pulang. Mata Ibu terlihat sebam ketika menuju dapur menyiapkan sarapan. Bapak memberiku uang dua ratus ribu rupiah untuk mencicil pembayaran uang bulanan. Berarti kurang empat ratusan lagi. "Bapak akan secepatnya lunasi, tapi kamu harus janji nilai ujianmu harus bagus. Supaya bisa cepat dapat kerja" begitu kata Bapak.
Siapa yang bisa memadamkan sinar matahari?seperti halnya merubah jalan pikiranku. Esoknya Ibu bercerita bahwa uang kemarin adalah hasil meminjam dari Pak Khambali, tetangga jauh yang bukan siapa-siapa. Karena sebelumnya telah mencoba meminjam uang kepada Paman namun tak ada, mungkin tepatnya tidak dipinjami. Karena aku tahu pasti dia punya. Ibu menangis di hadapan Paman waktu mengutarakan tujuannya, tapi tak ada rasa iba. Dengan kenyataan yang kulahap tanda sadar, membuat jalan pikiranku berubah. Tiga mata pelajaran ujian harus aku kuasai.
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika adalah mata pelajaran yang di ujikan. Semuanya tak bermasalah meski tak terlalu menonjol, kecuali Matematika. Terkadang keterpaksaan jauh lebih efektif dari sebuah pembelajaran. Dengan himpitan keadaan memaksaku mencintai matematika. Mencoba soal-soal bekas ujian tahun kemarin, menanyakan yang tak bisa, meminta kembali diterangkan. Tak jarang ketika sore aku kerumah Pak Firman meski hanya minta penjelasan satu biji soal yang kuanggap belum paham.
Hari ujian telah datang, senyumku mengembang tanpa paksaan. Satu hal yang selalu terbayang ketika mengerjakan soal, aku harus lulus lalu bekerja untuk sekolah adikku. Aku ingin Bapak tak perlu memikirkan ekonomi keluarga di masa tuanya. Aku yakin aku adalah anak laki-laki yang mampu dibanggakan.
Pengumuman kelulusan tiba, aku senang bukan kepalang. Puas karena inilah final dari perjuangan belajar. Tapi aku sadar inilah awal kehidupan untuk sebuah kedewasaan. Dan aku membuktikan bahwa keterpaksaan jauh lebih efektif dari sebuah pembelajaran.





0 komentar:
Poskan Komentar