Sayang, bulan telah disebut Februari. Bulan kedua dalam urutan kalender. Konon katanya bulan ini adalah bulan kasih sayang. Dimana cinta, kasih sayang diobral dan cuci gudang. Konstelasi cinta seakan terbentuk sempurna. Kepompong duka sirna, menjelma kupu-kupu bahagia. Orang-orang mendadak membutuhkan cinta lebih besar dari kadar biasanya, sekedar untuk melewatkan tanggal berangka empat belas di bulan ini, bulan kelahiranmu. Betapa cinta seolah dicecerkan dimana-mana. Bersama cokelat, bunga, dan hadiah-hadiah serba merah jambu. Cintakah itu yang berwarna merah jambu? Orang mewarnainya demikian.
Sungguh tidak rasional bukan? Ah, tapi cinta memang sering tak rasional sayang. Sama seperti tidak rasionalnya cinta kita yang mampu bertahan sampai delapan ratus sembilan puluh lima hari hingga hari ini. Aku si angkuh yang tengil dan kau si biru yang pencemburu. Dan kita mampu bersama - dalam cinta? - yang kutahu bukan merah jambu.
Mari sayang, kita terkekeh melihat lucunya kedunguan akan tradisi ini. Entah siapapun yang memulai, mungkin dia tengah terbahak di liang kuburnya. Sebab telah berhasil membuat hari yang penuh keanehan ini. Menghanyutkan darah muda terombang-ambing mengikuti kesalahkaprahan yang tak dipahaminya. Bukankah Idul Fitri adalah hari kasih sayang yang lebih pantas kita banggakan? Hari yang lebih mulia untuk mengagungkan cinta pada sang Pencipta dan menebar kasih sayang diantara manusia.
Atau mungkin orang yang memulai tradisi semacam ini sedang menangis di dalam kuburnya, sebab harapannya telah pudar dengan esensi cinta yang hilang. Orang mulai mengukur kasih sayang dengan seberapa banyak cokelat yang didapat, dengan berapa banyak waktu dihabiskan untuk saling mengeksplorasi tubuh, berapa serunya pesta yang dilewatinya.
Mendadak semua saling jatuh cinta. Semua menjadi sentimentil. Menghabiskan uang untuk sekedar makan malam yang mahal, saling bertukar hadiah, lalu sesudahnya mencari utangan untuk menutupi biaya yang sudah keluar.
Udara dipenuhi dengan kata : I LOVE YOU. Sesak dan pengap. Orang-orang yang dikirimi kata tersebut banyak yang mengangguk. Meski dalam hatinya timbul keraguan, mereka tetap mengangguk sebab tak rela menghabiskan bulan merah jambu ini sendiri. Demi eksistensi gengsi dan harga diri. Mereka ingin berdua-duaan menanggung asmara. Lalu bertebaran cerita cinta syahdu. Cerita remaja membosankan mengatasnamakan pengorbanan. Dan kemudian dengan bangganya mereka bilang bahwa itu nyata, bukan fiksi. Kisah Nagita yang rela mati demi cinta, serupa kebohongan kisah Juliet yang melegenda. Ada pula kisah Silma gadis buta, memendang cinta pada pangeran berkuda. Mencintai pangeran lewat suara merdunya. Padahal Silma tak tahu bahwa wajahnya pangeran tak beda jauh dengan kuda. Jadi meskipun pangeran, tak ada jaminan ia rupawan.
Sungguh aku heran sayang, mengapa mereka bisa menulis demikian?
Sayang, ini sudah bulan kedua dalam urutan kalender. Sudah kusiapkan puisi untuk kubacakan di hari ulang tahunmu nanti. Puisi bersampul wangi yang kutulis di atas kertas buram. Dinding kamar yang usang seolah mengejekku bahwa hanya kertas buram yang mampu kupersembahkan. Hujan menyergapku dalam pengap kamar kala kutulis puisi ini, menggambarkan hidupku yang juga usang dalam tubuh dekil ini.
Sayang, seandainya engkau hujan, aku adalah tanah basah yang terinjak peziarah. Begitu dekat bukan? Hingga masih dapat kucium aroma rambutmu meski kita berbatas ruang. Hingga masih bisa kutulis puisi yang hanya, hanya dan hanya untukmu sayang.
Sayangku, ini sudah bulan februari. Di angka lima belas nanti adalah hari ulang tahunmu, lewat sehari dari hari yang katanya merah jambu. Sungguh, tak hendak kuhadiah apapun, kecuali ingin memberimu sebuah penderitaan panjang yang melelahkan. Sebab sadarilah, cinta yang kutahu itu bukan merah jambu, tetapi hitam. Cinta itu hitam, ia menggelapkan. Cinta itu hitam, penuh penderitaan.





0 komentar:
Poskan Komentar