Hingar bingar gemerlap
Nyala langit usir gelap
Iringi transaksi pergantian
Jaman dan selembar harapan
Angka kalender berguguran
Terlipat duka
Terkubur luka lama
Teriakkan asa menghela
Bersama pecahnya api berbunga
Langit kelam sekali menyala
Bersambut riuh gempita
Tepuk tangan dan lolongan manusia
Tahta tahun berubah ekornya
Mengurangi satu umur dunia
Terjaminkah kita lebih baik dari sebelumnya?
Mampukah manusia kan ikhlas menjalani hidupnya?
Waktu terlalu berharga
Jika hanya pesta pora
Untuk kemudian keluh menganga
Menoreh lagi derita
Beginilah aku, ketika malam disebut banyak orang sebagai malam pergantian tahun. Aku tak merasakan apa-apa. Tahun baru harapan baru, kata mereka. Bagiku harapan tak perlu menunggu ganti kalender.
Besok adalah Khaul Bapak yang ke-2. Aku memaksakan untuk pulang ke rumah. Jalanan di daerah kota membentuk barisan kendaraan yang tertata. Macet membuatku terperangkap di hamparan aspal jalan. Ini hampir tengah malam, tapi semua orang malah keluar rumah. Ada yang memang besoknya libur (sepertiku), ada juga yang memaksakan libur dan memilih bergadang. Demi pergantian malam tahun baru, sebagian dari mereka - buruh lepas - memaksakan bolos mencari nafkah. Seolah sangat berharga jika harus dilewatkan dengan terlelap. Entahlah, bagiku tak ada beda. Tapi aku merasa aneh saja. Betapa kita mengadopsi budaya non muslim sedang negara kita mayoritas muslim. Saat pergantian tahun Hijriyah saja hanya segelintir yang benar-benar merayakan, itupun dalam budaya Islam. Pengajian bersama, doa awal tahun, renungan, dan lain sebagainya pun pengunjungnya tak sebanyak pesta kembang api.
Prekataaaak.... Dueer..... Thoor.... . Langit sesekali terang, terasa hangat di ubun-ubun. Tepat jam 12 malam ditunjukkan oleh jam di pergelangan tangan. Seketika ribuan mulut bersahutan. Riuh ribuan wajah terpasang gembira dan terpana. Walikota memanjakan warganya dengan membakar uang untuk menantang pekat malam. Betapa tidak, harga kembang api kalau kutaksir bisa puluhan juta rupiah dalam dua atau tiga kali ledakan. Ironis, jika dibandingkan dengan realitas yang kulihat di sepanjang jalan memasuki perbatasan kota. Seorang ibu muda menggendong anak sedang menenteng kotak permen. Berdiri di pembatas jalan. Sesekali mendekati kaca mobil, berharap receh bersuara dalam kotak permen itu. Aku juga sempat melihat anak kecil, berjalan pincang. Menjajakan masker seharga seribu rupiah. Duh, waktu aku seumuran dia, betapa aku sangat bahagia. Bapakku yang cukup dengan harta mampu membahagiakan masa kecilku. Bapak, maafkan anakmu tak sempat membahagiakanmu. Aku ingin menjadi lelaki sepertimu, tangguh dalam keluarga, desah batinku.
Tak berselang lama dari selesainya nyala kembang api, aku dikejutkan oleh segerombol orang yang menerobos kemacetan. Mereka membopong seorang gadis belia. Gadis itu telah meninggal, akibat terinjak-injak di depan panggung pertunjukan di tengah Alun-alun, begitu jawaban salah satu dari mereka ketika aku bertanya. Owh... , komentarku lirih. Mempertaruhkan nyawa demi pertunjukan musik dan pesta kembang api. Hebat, pikirku.
Ponsel mungil kesayanganku bergetar. Sudah sampai mana, kak? , isi sms dari adikku. Aku jadi bingung apa yang nanti harus kujawab ketika ibu menanyakan tentang uang yang ia minta untuk biaya khaul Bapak. Gajiku kecil, dan harus dipotong Koperasi karena hutang. Ya Allah, jauhkanlah keluh kesah sifat Syaitan ini dari hamba. Berikanlah hamba keikhlasan dalam menjalani hidup yang Engkau amanatkan. Ya Allah yang maha Pemberi, sadarkan hamba atas Nikmat yang telah Engkau curahkan, jangan Engkau palingkan hamba setelah Engkau beri petunjuk, batinku berdo'a. Aku menghela nafas. Sedetik kemudian aku mengetik pesan balasan,
sudah sampai alun-alun Batang, tapi macet. Masalah biaya khaul, mas udah ada. Bilang ibu nggak usah khawatir.
Message has been send sucsessfully
Aku membuat pesan baru, kutujukan pada nomor sahabatku.
Bro, aku ngutang lagi ya? Besok di transfer rekeningku. Bayarnya sekalian ama utang yang kemarin. Mungkin agak lama.
Kuhadirkan sebatang rokok diantara jemari. Kunyalakan dan kuhisap dalam-dalam. Kuhembuskan perlahan bersama kegamangan pikiran. Lantas aku tersenyum, dan bersenandung dalam hati. Hidup ini memang lebih aneh dari fiksi.





0 komentar:
Poskan Komentar