28 Januari 2012

[bukan] RESOLUSI

Beginilah adanya malam ketika kantuk belum juga melumpuhkanku. Beginilah adanya malam, selalu membukakan pintunya untuk memaksaku menyelami gelapnya. Sebab disana tersimpan ribuan cerita, dongeng, dan kisah yang tercipta dari tahun ke tahun. Seolah membuatku berfikir akan hari-hari yang telah terlewati, juga memikirkan begitu banyak kemungkinan yang bakal terjadi.

Ini sudah bulan Januari. Gerimis telah puluhan kali menyibakkan tirainya di luar jendela. Seperti malam ini, gerimis telah membentuk kubangan di halaman rumah, juga di jalanan. Ah, ingin rasanya aku mandi hujan. Supaya sedikit menyegarkan pikiran yang sarat beban atas hidup yang telah kutempuh. Tapi, menimbang tubuhku yang rapuh akan demam, kuputuskan memandanginya saja dari balik jendela kamar. Aku tak yakin akan ketahananku, seperti seringnya aku tak yakin atas sesuatu hal.

Ini sudah bulan Januari. Tahun telah berganti. Tapi aku masih sama. Wajahku masih sama, pakaianku masih sama. Di tahun sebelumnya, banyak pil getir dan kepahitan yang terpaksa kutelan. Sering terseok dan terkilir atas langkah yang kuayunkan dalam setapak kehidupan.

Perubahan, ekspetasi, harapan, proses belajar, eksistensi diri, rasanya tak perlu menunggu waktu berganti. Sebab tak ada arti apapun tanpa semangat dan sikap konsisten dalam diri. Dan aku? nyatanya aku begitu sulit untuk fokus pada tujuan. Seringnya tersakiti membuatku sibuk mendendam, mencari peluang pembalasan. Tanganku yang terbatas tak mampu membalut semua luka dan memangkas kepedihan. Lagipula, rasanya aku bukan orang yang punya keyakinan cukup kuat akan sesuatu. Mungkin karena itulah aku sering tak berhasil dalam menjalani hidup. Betapa aku sangat mengagumi orang-orang yang total dalam menjalankan pilihannya.

Terus terang, aku ingin seperti mereka yang penuh keyakinan dalam menjalankan pilihannya. Membuatku terkadang berfikir tentang orang-orang besar yang terkenal dengan segala macam keberhasilannya. Bumi yang kupijak sama. Bulan yang kulihat tak berbeda dengan yang dilihat Nabi Muhammad di masa lampau. Matahari yang kutatap juga sama dengan yang menyinari tempat dimana Albert Einstein berada di jamannya. Bedanya, mereka punya keberanian. Berani total dalam pilihan, berani bangkit dari kegagalan, dan berani memulai untuk perubahan. Betapa seringnya angkuh dan kesombongan tumbuh subur didadaku ketika aku mampu menggenggam secuil kerikil. Dan bila telah saatnya kerikil itu terlepas, aku terjerembam terlalu lama dalam kubangan duka. Terlalu lama meratapi keterpurukan diri tanpa pernah menyadari bahwa waktu begitu cepat melenggang dan bergulir sia-sia. Mengutuki diri ketika gelas kemegahan yang kugenggam harus pecah berserakan. Betapa hati yang kotor ini tak menyadari bahwa pecah adalah hakekat dari gelas.


Tahun baru haruskah memulai dengan hal baru? bagiku bukan bagaimana memulai tapi lebih kepada bagaimana mengakhiri. Ya, mengakhiri keangkuhan dalam diri untuk bisa mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku. Itulah sebabnya, dengan imanku yang tak seberapa, tak urung kupanjatkan bait-bait do'a disela sujudku padaNYA. Tuhan tak pernah salah alamat mengirim nikmat pada hambaNYA. Bukan seperti halnya Ayu Ting-ting yang membawa ”alamat palsu” kemana-mana. Hanya saja aku sering tak menyadari akan nikmatNYA. Ketidaktahuan dan kesadaran menjadi penyebabku.

Seorang Filsuf pernah berkata, “Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses”. Aku ingin menjadi sukses dalam definisi tersebut. Harapanku, momentum tahun baru ini sebagai alasan yang kuat dalam diriku untuk mulai bergerak menuju tangga kesuksesan dan mimpi-mimpiku.

Kesuksesan tidak selalu dinilai dari uang. Terkadang orang kesederhanaan jauh lebih sukses daripada kemewahan. Sebab jika memang tujuannya untuk hidup secara sederhana bisa diartikan telah sukses pada tujuannya.

Aku jadi teringat perkataan Soekarno --presiden pertama kita-- dalam bukunya, bermimpilah sebesar-besarnya, karena besar dan kecilnya mimpi resikonya sama. Ya, aku setuju. Sebab besar dan kecilnya mimpi tetap butuh bahan bakar yang sama yaitu semangat. Dan aku? Terlalu banyak mimpi yang belum sempat kucicipi. Sebab aku manusia dengan pikiran normal yang pernah punya segudang mimpi dan harapan. Realistis bukan? Hanya saja seringnya aku terlena oleh mimpi yang bercampur ilusi, lupa untuk membedakannya.

Kemarin salah satu temanku bertanya hal serupa, apa keinginanmu di tahun ini? Aku hanya menjawab dengan tiga poin saja,
(1) bisa membeli Laptop supaya bisa menulis kapan saja dan dimana saja,
(2) berhasil diangkat jadi karyawan tetap supaya terus menghidupi ibu dan adikku, tanpa perlu berpindah-pindah Perusahaan,
(3) bertunangan dengan kekasihku, dan
(4) memperbaiki rumah yang atapnya telah rapuh.

Sederhana dan realistis bukan? Kebanyakan manusia memang perlu alasan agar mau bergerak untuk melakukan sesuatu. Oleh sebab itu aku membuat deretan untukku bergerak dan terarah.

Dorongan terbesar bagiku adalah kekasihku dan Ibuku, satu-satunya orangtuaku yang masih ada.

Ah, sebenarnya aku ingin berencana layaknya dalam film. Mempunyai keinginan kuat untuk membiayai Ibunya pergi ke tanah suci. Namun hidup ini kan tak seindah film dengan dialog-dialog memuakkan dan penuh kemunafikan. Yang kutahu, hidup itu terlalu kejam untuk orang dewasa.

0 komentar:

KOMENTAR Via Facebook