26 Januari 2012

AKU PERNAH MENANGIS (Tribute To Khaul Bapak ke-2)


Aku pernah menangis karena kehilangan Bapak. Usia dua puluh aku mengalami hal terburuk itu. Bapak tercinta yang menjadi tulang punggung hidup kami sekeluarga harus di ambil kembali oleh Allah yang Maha Kuasa. Bapak meninggal di usia yang masih tergolong muda, tepatnya di usia empat puluh lima.

Aku pernah menangis, sebab Allah menganugrahi kantung airmata untuk laki-laki, tak hanya wanita saja. Kala sedih menghadang, kugunakan untuk penyiram hati. Kesedihan akan rasa kehilangan hanyalah sebuah perasaan. Mengingatkan diri bahwa hidup takkan abadi. Selalu ada kematian yang siap kapan saja menghampiri. Tak mengenal waktu tak berbatas usia.

Mungkin kamu bakal terbayang sedihku sebatas anak yang ditinggal orang tua. Tapi aku, lebih dari itu. Selain Bapak masih muda, bapak tidak meninggal lantaran sakit jantung, kanker, atau penyakit mematikan lainnya. Tidak, Bapak tidak pernah sakit (berat). Pekerjaannya sebagai kuli bangunan membuat tubuhnya kuat. Meski kulitnya telah hitam legam terbakar panas matahari, Bapak tak pernah mengeluh menghidupi keluarga. Sosok yang penuh tanggung jawab dan tegar.

Kamu tahu kereta api? Besi tua yang melintas super cepat diatas batang rel. Ya, kereta api yang membunuh Bapak. Ketika pagi buta Bapak telah berangkat menuju tempat kerja. Mengapa kukatakan pagi buta? Sebab kamu bisa saja tersungkur di jalanan pada saat pagi masih gelap seperti itu. Dan tentunya tak terkecuali Bapak. Bapak menuju tempat kerja dengan melalui jalan setapak yang menyebrangi rel kereta. Bapak jatuh dan terkilir diatas batang besi panjang itu. Kakinya tersandung bantalan. Bapak tak mampu bergegas bangkit ketika lolongan kereta melengking dari kejauhan. Dan tak terelakkan, ketika kereta melintas, Bapak belum sempurna menjauhi jalur itu. Bapak terpental sejauh enam meter. Namun tubuh Bapak masih utuh, hanya separuh wajahnya terkoyak akibat hantaman kepala kereta. Begitulah ungkapan saksi mata yang melihatnya.

Yang lebih menyakitkan, aku mendengar kabar tersebut setelah aku naik kereta untuk pertama kalinya. Begini, waktu itu aku sedang bekerja di Jakarta. Paman menelpon teman sekampungku yang juga bekerja di Jakarta. Bapakku sakit dan aku disuruh pulang sekarang juga, begitu kata temanku. Berharap cepat sampai kota Pekalongan, aku memilih naik kereta. Temanku juga ikut pulang. Dan itu, pertama kalinya dalam hidupku merasakan naik transportasi darat yang hanya terdapat di pulau Jawa saja, kereta api.

Di dalam kereta, aku masih bisa bercanda dan tertawa. Tapi tak bisa kutepis, ada suasana aneh dalam perasaan hingga aku tak mampu menjabarkan. Sebuah kegelisahan yang tak tahu darimana sumbernya.

Senja menjelang, melambai di belakang gerbong kereta. Ponselku berbunyi, panggilan masuk dari Paman. Meminta ijin aku sebagai anak lelakinya, mengebumikan saat itu juga. Jari-jari merunduk lemas ketika kutahu Bapak telah tiada. Bibirku kaku bibirku kelu. Ingin rasanya kudorong kereta supaya sampai rumah secepatnya. Hanya tangis lirih yang mampu kulakukan. Aku tak menanyakan penyebab kematian Bapak. Aku hanya mengiyakan Paman untuk menguburnya sebelum hari mulai petang. Bapak, ma'afkan anak lelakimu yang tak bisa mengantarmu menuju tempat peristirahatan panjang, tangis batinku.

Sesampai di rumah, lutut lemas menopang ketika mataku menangkap bendera kuning dan kursi-kursi plastik depan rumah. Dua jam tangisku mengerang, seolah menolak kenyataan yang tersaji di meja nestapa. Sesalku menggunung saat aku tahu penyebab kematian Bapak yang sesungguhnya. Aku ingin mengutuki diri sendiri. Tak kupedulikan orang-orang disekelilingku yang coba menenangkan.

Aku belum siap kehilangan. Belum mampu mengukir senyum di wajah Bapak.

Pandanganku kosong, menerawang masa silam. Betapa mudahnya aku menolak perintah Bapak saat minta dipijit dengan alasan sibuk belajar. Mengingkari suruhan Bapak tidak keluyuran, dan kupenuhi dengan pulang larut malam sambil marah-marah.

Masih dalam hitungan bulan aku bekerja. Masih seumur jagung usia mengais dunia. Tapi dengan sombongnya aku tak pernah memberi kabar pada orang tua. Seolah aku mampu hidup tanpa mereka. Lalu ketika Bapak menelponku, kujawab dengan malas-malasan, dan berharap segera selesai petuahnya.

Aku jadi ingat keinginan yang Bapak minta dariku. Ketika aku pulang lebaran nanti, Bapak minta dibelikan baju Koko di Tanah Abang. Baju Koko warna hijau yang dilihat di sebuah tayangan televisi saat liputan di pasar Tanah Abang. Tapi aku belum sempat membelikan. Hanya tangis ma'af yang bisa kulakukan. Hanya penyesalan yang tertanam dalam.

Ya Allah, sampaikanlah bait-bait do'a yang kupanjatkan diantara sujudku. Dengan imanku yang tak seberapa ini, hamba bersimpuh memohon tempat terbaik untuk Bapak di sisi-Mu ya Rabb. Berilah hamba kekuatan memikul tanggung jawab menggantikan tugas Bapak menafkahi keluarga. Janganlah palingkan hamba setelah Engkau beri petunjuk menuju jalanMu.

Dan aku pernah menangis. Sekarang, saat ini. Saat aku menulis tulisan ini, manik bening dari sudut mata menetes membasahi pipi.

0 komentar:

KOMENTAR Via Facebook