.
Ekspresi kekaguman seringkali kita permudah dengan selembar kartu atau bahkan selarik kalimat yang terucap di ujung ponsel. Tak ada lagi rasa dag dig dug jantung kala menatap matanya. Tak ada lagi rasa berdegup kencang dengan berjam-jam terdiam membisu disampingnya. Ekspresi cinta sering dilukiskan secara instant. Lewat boneka berbentuk hati, dan beralasan bahwa itu sangat bermakna dan bermodal daripada kata-kata.
Barangkali kedinamisan semacam ini yang terlampau lama menina-bobokan kita. Pria lebih suka berpujangga dengan credit card disakunya. Berpujangga pada keremangan cinema twenty one, menyaksikan film romantis penuh cinta sambil memainkan jemari di rok mini sang wanita. Wanita lebih suka dipuja dengan kiriman pulsa dan uang belanja busana. Wanita lebih memilih dengan diantar ke Spa dan Mall.
Kedinamisan ini mencemooh ekspresi cinta yang diwariskan leluhur kita. Rangkaian kata dianggap tak lagi sesuai dengan jaman milenia.
Barangkali sudah waktunya para generasi muda, menguak sejarah dan lembaran kejayaan romantisme, dimana untaian kata lebih berharga daripada kartu di mesin penggesek. Inilah saatnya melahirkan seni yang lama mati suri oleh peradaban. Mengoriginalkan kegaiban sebuah seni dalam kata. Mari, lahirkan pujangga baru di negeri ini. Siapa tahu andalah pengganti Pablo Neruda dan Kahlil Gibran.





0 komentar:
Poskan Komentar