10 Januari 2012

Ada Apa Denganku?

Ketika aku membiarkan diriku diselimuti kemarahan atas perilaku orang lain, manakala aku membiarkan perasaanku dideterminis oleh labeling-labeling dan judgmental tanpa refleksi kritis, aku telah benar-benar terjebak. Lalu ketika aku membiarkan originalitas pemikiranku terkontaminasi oleh isme, ideologi, aliran tertentu, dan ketika aku tidak lagi bisa menjadi tuan atas semua gejala dan gejolak psikologis yang enlightment maupun yang traumatic dalam hatiku, aku pun sudah kejebak.
Parahnya, jebakan-jebakan ini sulit kuhindari.

Semestinya aku mampu menjadi tuan atas warna-warna hidupku. Akulah yang seharusnya menentukan angka-angka sesuka hatiku, menjadikannya baik atau tidaknya. Akulah yang seharusnya mengendalikan challenge-challenge dalam hidupku. Aku juga yang seharusnya yakin bahwa akulah sejatinya yang mampu memanipulasi hasratku entah yang liar atau hasrat luhur seperti diam saja atau berbuat perubahan.

Tapi bagaimana caranya menjadi aku yang adalah tuan? Kalau ternyata sikap sopan santunku, atau strategi pelayananku semata-mata dimotivasi oleh semangat konsumerisme, tuntutan pasar, trend mode dan kemudian dimahkotai oleh spiritualitas budaya mengekor demi kredibilitas menyuburkan ladang kapitalisme?

Ah, ada apa denganku?

0 komentar:

KOMENTAR Via Facebook