29 Desember 2011

Antara Cerpen, Sampah, dan Ke-BRENGSEK-an

Cerita pendek nan panjang. Semakin hari semakin ngeri. Semakin ngeri semakin dicari. Tapi bagiku tetap saja sampah. Cerpen itu sampah. Dan aku terus menulis sampah. Sampah memang begitu, kadang ngeri.

Eh, ada anak Amerika bilang sampah Indonesia jelek-jelek. Pasti dia orang goblok dan tidak mengasyikkan. Kamu bukan dia kan? keringatnya bau keju, dan keringatmu bau jengkol. Tapi buatku keringat tetap keringat meski dengan bau apapun. Jadi biarkan dia dengan keringat sampah kejunya.

Dan sampah tetaplah sampah. Jangan salah, jangan benar, dan jangan asem beranggapan. Bukan berarti Cerpen itu busuk layaknya nasi basi (meski kadang aku mual). Terminologinya begini, sampah kulit pisang sama pentingnya dengan buah pisang. Tanpa kulit, pisang bukan apa-apa. Barangkali kadar vitamin kulit pisang malah lebih tinggi. Sampah pernah jadi sesuatu (bangetz... cuih...! ), maka jangan selalu berfikir akan efek samping. Mungkin harus diganti manusia, eh ralat, cara pandangnya. Dimana tadinya tidak penting menjadi penting. Percuma saja berkali-kali ganti Presiden jika 'jabatan' yang tak penting menjadi sangat penting. Krisis nomor sekian yang penting jabatan dapat. Senasib dengan Caleg nomor sepatu.

Tapi barangkali hal demikian yang membuat cerita pendek jadi memanjang, makin memanas. Makin penuh konflik dan intrik. Semuanya ada dikoran yang kubaca tadi pagi. Kriminal, mesum, misteri, selebritis, hingga iklan pembesar alat vital. Aku jadi berfikir, mungkin koran sudah menjadi cerita fiksi. Betapa mengerikan dunia ini. Hidup lebih aneh dari fiksi. Hingga kita harus membaca kumpulan tips hidup bahagia.

Mungkin kamu pikir aku telah gila. Aku tidak gila, cuma butuh teman. Mungkin teman yang tak kulihat, tak kukenal, pun tak kuingat aroma rokok dan keringatnya. Duniaku penuh imajinasi yang perih yang sejak semula tersangkut dalam plasenta.

Generasi kita hanya memboroskan kata-kata. Hedonisme terselubung. Begitu banyak kata-kata tanpa makna tercecer di jalan raya, di stasiun, terminal, bahkan di gedung Pemerintahan. Mereka tak tahu makna yang mereka katakan tapi tanpa henti digemborkan.

Hei, masih adakah kamu disitu? mungkin kamu bosan dengan tulisan-tulisan tak bermakna ini? Baiklah, pada akhirnya biarlah aku bicara tentang kejenuhanku saja daripada kamu terjebak dalam pemikiran konyolku. Aku sendiri merasa kesulitan mengendalikan pikiran. Ada banyak hal yang tak kuinginkan tapi kumiliki, begitupun sebaliknya. Tapi tak urung kupanjatkan bait-bait do'a syukur di antara sujudku. Bahwa aku masih mampu kontradiksi, punya emosi dan birahi. Itu menunjukkan bahwa masih ada manusia --brengsek-- bersemayam dalam raga ini. Dan dengan semua ini membuat aku tak ingin mempersoalkan kenyataan hidup. Jauh lebih mudah memainkan mainstream daripada berbelok, manuver, menerobos papan larangan, atau bergeriliya secara Underground. Lalu apa sesungguhnya yang aku kejar? betapa aneh aku dan duniaku. Cuma satu yang belum mampu kuatasi. Sukacita bergaul dengan kegilaan kumpulan orang Extreme Metal berbarengan dengan dukacita meneguk beberapa sloki alkohol cap rel kereta.

Duh, aku manusia paling brengsek sepertinya. Tak mampu menulis Cerpen yang ngeri satupun, tak seperti si bibir seksi Ayu Utami. Eh, dia Novelis bukan Cerpenis. Aku tak peduli, yang jelas aku menggilai karya-karya erotis dan gamblangnya.

Kalau tidak gila, mungkin kamu mengira aku sedang bahagia. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia sedang aku mengidap melankolia akut. Bagaimana bisa aku bahagia sedang dunia diperkosa tiap detiknya. Hidup memang kadang terasa berantakan. Cinta menjadi absurd. Ibuku pernah mendambakan aku bergabung dengan grup Rebana saja. Mendendangkan syi'ar lewat syair religi dengan dentuman samak kulit sapi. Wuah, satu jam bersama mereka lebih mengerikan dibanding enam jam duduk di kursi kereta kelas ekonomi. Bukan aku menolak sebab tak suka. Aku lebih memilih menjadi penikmat saja ketika mereka pentas. Duduk di depan panggung dengan sebatang rokok kretek yang disediakan panitia. Menikmati suara alunan tinggi bernafas islami dengan bring-prong-prong-bring bunyian rebana.

Aku juga tidak paham dengan ketidakpahaman orang tentang seleraku. Yang jelas aku tidak mencontek selera siapa-siapa. Inilah aku dengan segala kebobrokan sakitku. Sick, sick, and sick. Aku juga hilang percaya pada energi cinta yang kini terjebak dalam rumus kapitalisme. Tak ubahnya ideologi anak Underground yang kini seperti bisnis putau. Sudah mengalami pergeseran paradigma. Betapa tidak, berkowar-kowar tentang major label busuk untuk kemudian menghamba ketika demonya dilirik. Jika ini pertempuran, kau sudah lama mati di tangan musuh kawan. Atau meneriakkan anti Amerika tapi duduk di pojok Mc. Donald. Aku juga sudah ngos-ngosan untuk menjangkau harga kaos band metal di distro-distro. Tapi sudah kuduga jawabannya, manusia-manusia seperti kita yang terlanjur dibesarkan di tengah dominasi materi, sudah hampir pasti akan terjerat di perangkap yang sama. Darah muda kita yang begitu murni dan meletup-letup, akhirnya teracuni juga oleh polusi peradaban. Segala cita-cita juang tinggal sampah. Dan perlahan membunuh masa lampau, untuk membiakkan masa depan yang ternyata hanya dejavu.

Aku?se-underground apakah diri ini?meski sudah memboikot coca-cola merasuki tubuh, tapi aku masih ikut ngantri saat musim CPNS tiba. Betapa brengseknya diri ini. Brengsek, brengsek, brengsek.


Mati saja kau..!! Geming hatiku. Aku tak setolol itu kawan. Walau aku terlahir ditengah kemiskinan, bukan alasan untuk aku tidak bahagia.

Dan aku masih bahagia dengan kebrengsekanku. Kebrengsekan yang sakit.

Sayangku, cintaku, kasihku, pujaanku, honey bunny sweety baby, bla..bla..bla.. yang lebih kusukai memanggilmu dengan Nyai, akulah lelaki paling brengsek yang begitu mencintaimu....

FOTO BUGIL MODEL BERCINTA BERBAGAI GAYA

Ini adalah beberapa gambar bugil posisi bercinta (ngentot) yang saya dapatkan dari beberapa situs. Silahkan dilihat dan komentarlah jika anda merasa tertipu :P










Tidak menipu kan? Benar-benar bugil dan benar-benar sedang bercinta :)

11 Desember 2011

Kuseka Mimpi

Aku pergi menyeka mimpi
karena ingin menyunting dirimu
dengan emas permata yang terdapat di muara kembara
sebelum mata kakiku
menentukan arah pijaknya

10 Desember 2011

Kisah Kasih

Jalinan kisah kasih yang mengisahkan sepasang kekasih. Inilah kisah tentang kasih untuk kekasih yang terkasih. Maka jadilah kisah tentang kasih. sepasang kekasih yang selalu merindu kekasih terkasih yang terjalin dalam kisah kasih pasangan kekasih dalam balutan kasih. Menjadikan kisah kasih sepanjang kisah dengan kasih yang terkasih dari kekasih.

Datanglah wahai kekasih, datanglah dalam kasih. Agar menjadi kisah tentang tangis kasih, tawa kasih, rindu kasih, peluk terkasih, dan kasih yang terkisah dalam kasih kita yang saling mengasihi. Menjadi kisah kasih sepasang kekasih yang akan selalu terkisah dalam kasih.

Inilah kisah tentang kasih kita, kekasih. Tentang sepasang kekasih yang selalu merindu kasih dari kekasih yang terkasih dalam kisah kasih.

Perahu Kertas Merah

Perahu Kertas Merah
oleh : Wirasatriaji


Senja menjadi pucat ketika lampu telah berpendar sebelum gelap benar-benar datang. Serupa hatiku yang pucat ketika duduk memandangi laut yang rakus melahap matahari. Meneteskan darah jingga pada gelombang dan pasir. Aku terpaku pada kenangan yang tercetak diantara bangku kayu dibawah sinar lampu pantai, tempat tangis dan tawa beradu. Kuharap kau masih ingat bangku tua ini, tempat kita kerap menghabiskan waktu mengejar senja yang pamit di ujung kabut, sebab aku suka sekali pada hujan dan kabut. Kau sering mengantarku kesini untuk menemui keduanya bila hati resah. Kita kerap berjalan bersisian di jalan setapak dibawah nyiur pohon kelapa, lalu mengukir inisial nama kita pada salah satu batangnya. A&U. Ali & Ucix.

Pantai ini telah mengenal kita sebagaimana seorang ibu mengenal anaknya. Seribu percakapan pernah kita habiskan disini. Wajahku pernah begitu dekat denganmu, hingga sepertinya bibirku mampu menyentuhmu. Namun waktu itu kita hanya bertukar nafas. Kenangan kita berjejak pada kerak-kerak awan berarak. Usai itu, ia membentuk pelangi yang tak mampu kusentuh.

Aku mengusap lembaran kertas berwarna merah ditangan kanan, sebagaimana aku pernah mengusap rambutmu dengan tangan ini. Disuatu senja di pantai ini aku juga pernah menggenggam tanganmu, sementara kini aku menggenggam kepedihan. Seperti apa rupa kebahagian, aku lupa. Jika memang tak mampu kucipta kebahagiaan, maka biarkan aku mencurinya sedikit saja agar senandung tak melulu sendu.

Aku seperti perahu kertas kesukaanmu. Terombang-ambing tak tentu, tak berawak di lepas laut. Mana bisa mencapai dermaga, katamu sambil tertawa. Ya, kita kerap membuat perahu kertas. Lalu memaksanya berlayar dengan gelombang yang kau cipta. Perahu kertas menjauh, menyimpan seribu rahasia saat kita mengukir kebahagiaan di kaki senja.

Ini hari ke tiga puluh lima semenjak kamu melarangku menghubungimu. Aku tahu kamu tidak akan mengingatnya. Sebagaimana aku mengingat dan menghitungnya setiap hari. Menarik garis lurus dan menyilangnya bila telah genap lima. Serupa pesakitan di penjara yang menunggu hari kebebasan. Sebagaimana setiap hari kubuat perahu kertas dan kumainkan sendiri. Perahu kertas yang menyimpan berjuta rahasia, karena aku sering mengadu kepadanya waktu bulan sempurna pada malam-malam kesendirian. Ah, mungkin aku harus berdamai dengan hatiku. Supaya ia sepakat dengan mataku yang tetap jalang mencari sosokmu ditarian waktu. Melucuti setiap jengkal udara dan benda. Membauimu di tiap sudut senja, meski sesudah itu hanya sakit yang kudapatkan.

Senja telah sempurna binasa oleh jelaga malam. Dan malam bukan lagi milik kita. Meski langit sama, pijakan kita berbeda. Tak dapat lagi kuciumi hangat nafasmu. Tak ingin aku menerka warna bajumu. Aku tak hendak menunggu malam menjadi pagi. Sebab malam bukan milik kita lagi. Kulipat kertas di tangan kanan. Lalu aku membentuknya sedemikian rupa hingga tercipta perahu kertas. Untuk kali ini urung kumainkan. Aku juga tak hendak melepasnya ke laut. Kubakar perahu kertas itu untuk menghangatkan malam panjangku. Api telah kusulut di ujung perahu, perlahan merambat melenyapkan barisan tulisan:

menikah :

Nur Suci Samiasih (Ucix)

dengan

Edi Wildan Kurniawan (Ewild)

Perlahan namun tak membekas. Api telah merubahnya menjadi abu. Lalu abunya kuserahkan kepada angin untuk menyebarkan keseluruh penjuru. Sebuah perahu kertas berwarna merah yang kubuat dari secarik undangan pernikahanmu.


Pekalongan, 21 November 2011

07 Desember 2011

Segalanya Bagiku




Yang tak lelah mengasihiku
yang tak luput mendoakanku

Ibu, segalanya bagiku

pada seraut wajah di tiap waktu
terusir malamku yang tergugu pilu
dimakinya bulan hingga tertunduk malu
demi lelapnya aku

Ibu, segalanya bagiku

dan pesona kasihmu
adalah sekumpulan mawar
yang selalu mekar di empat musim
melimpah kasih kurasakan
sejuta cinta kudapatkan
tundukkan mentari menyengat
pada langkah yang terhambat

dengan parau suara sendu
diantara sepertiga malam sujudmu
menggamis rahmat untuk anakmu

Ibu,
Ibu,
Ibu,
kaulah segalanya bagiku


Kudus, 07 desember 2011

03 Desember 2011

Hidup = Ping ?

ping !

Apakah hidup harus tetap kuhidupi
Jika destination unreacheable

reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
Hidup itu tidak menyenangkan

reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
reply from 10.0.18.38: bytes=32 time=1ms TTL=62
Lalu untuk apa hidup?

KOMENTAR Via Facebook