Perahu Kertas Merah
oleh : Wirasatriaji
Senja menjadi pucat ketika lampu telah berpendar sebelum gelap benar-benar datang. Serupa hatiku yang pucat ketika duduk memandangi laut yang rakus melahap matahari. Meneteskan darah jingga pada gelombang dan pasir. Aku terpaku pada kenangan yang tercetak diantara bangku kayu dibawah sinar lampu pantai, tempat tangis dan tawa beradu. Kuharap kau masih ingat bangku tua ini, tempat kita kerap menghabiskan waktu mengejar senja yang pamit di ujung kabut, sebab aku suka sekali pada hujan dan kabut. Kau sering mengantarku kesini untuk menemui keduanya bila hati resah. Kita kerap berjalan bersisian di jalan setapak dibawah nyiur pohon kelapa, lalu mengukir inisial nama kita pada salah satu batangnya. A&U. Ali & Ucix.
Pantai ini telah mengenal kita sebagaimana seorang ibu mengenal anaknya. Seribu percakapan pernah kita habiskan disini. Wajahku pernah begitu dekat denganmu, hingga sepertinya bibirku mampu menyentuhmu. Namun waktu itu kita hanya bertukar nafas. Kenangan kita berjejak pada kerak-kerak awan berarak. Usai itu, ia membentuk pelangi yang tak mampu kusentuh.
Aku mengusap lembaran kertas berwarna merah ditangan kanan, sebagaimana aku pernah mengusap rambutmu dengan tangan ini. Disuatu senja di pantai ini aku juga pernah menggenggam tanganmu, sementara kini aku menggenggam kepedihan. Seperti apa rupa kebahagian, aku lupa. Jika memang tak mampu kucipta kebahagiaan, maka biarkan aku mencurinya sedikit saja agar senandung tak melulu sendu.
Aku seperti perahu kertas kesukaanmu. Terombang-ambing tak tentu, tak berawak di lepas laut. Mana bisa mencapai dermaga, katamu sambil tertawa. Ya, kita kerap membuat perahu kertas. Lalu memaksanya berlayar dengan gelombang yang kau cipta. Perahu kertas menjauh, menyimpan seribu rahasia saat kita mengukir kebahagiaan di kaki senja.
Ini hari ke tiga puluh lima semenjak kamu melarangku menghubungimu. Aku tahu kamu tidak akan mengingatnya. Sebagaimana aku mengingat dan menghitungnya setiap hari. Menarik garis lurus dan menyilangnya bila telah genap lima. Serupa pesakitan di penjara yang menunggu hari kebebasan. Sebagaimana setiap hari kubuat perahu kertas dan kumainkan sendiri. Perahu kertas yang menyimpan berjuta rahasia, karena aku sering mengadu kepadanya waktu bulan sempurna pada malam-malam kesendirian. Ah, mungkin aku harus berdamai dengan hatiku. Supaya ia sepakat dengan mataku yang tetap jalang mencari sosokmu ditarian waktu. Melucuti setiap jengkal udara dan benda. Membauimu di tiap sudut senja, meski sesudah itu hanya sakit yang kudapatkan.
Senja telah sempurna binasa oleh jelaga malam. Dan malam bukan lagi milik kita. Meski langit sama, pijakan kita berbeda. Tak dapat lagi kuciumi hangat nafasmu. Tak ingin aku menerka warna bajumu. Aku tak hendak menunggu malam menjadi pagi. Sebab malam bukan milik kita lagi. Kulipat kertas di tangan kanan. Lalu aku membentuknya sedemikian rupa hingga tercipta perahu kertas. Untuk kali ini urung kumainkan. Aku juga tak hendak melepasnya ke laut. Kubakar perahu kertas itu untuk menghangatkan malam panjangku. Api telah kusulut di ujung perahu, perlahan merambat melenyapkan barisan tulisan:
menikah :
Nur Suci Samiasih (Ucix)
dengan
Edi Wildan Kurniawan (Ewild)
Perlahan namun tak membekas. Api telah merubahnya menjadi abu. Lalu abunya kuserahkan kepada angin untuk menyebarkan keseluruh penjuru. Sebuah perahu kertas berwarna merah yang kubuat dari secarik undangan pernikahanmu.
Pekalongan, 21 November 2011





0 komentar:
Poskan Komentar