22 November 2011

BUKAN ANU BIASA


.... ... ...

"Selamat siang bu," suara menetas dari luar pintu kantor

"Siang Lib, silahkan masuk" jawab Salma setelah menjatuhkan pandangan ke arah suara.

"Silahkan duduk, ada perlu apa?" Lanjut Salma.

"Anu bu, saya anu" terbata-bata Tholib berucap seusai mendaratkan pantatnya dengan sukses di kursi depan meja Salma.

"Anu kamu kenapa?" Salma tertawa geli.

"Anu bu, saya suka sama Ibu Salma. Sudah sejak lama saya memendam perasaan sama Ibu. Sering saya memperhatikan anu ibu, eh maksudnya wajah Ibu. Saya mencintai Bu Salma. Apa Bu Salma mencintai saya?" Terang Tholib tanpa memandang wajah Salma.

Salma terdiam, mengatupkan kembali bibirnya yang baru tertawa. Tholib masih menunduk, jemarinya memainkan ujung taplak meja. Dahinya ditumbuhi jagung, lebih tepatnya butiran-butiran keringat sebesar biji jagung.

Salma menghela nafas panjang, lantas berucap, "Anu Lib, eh anu... Maaf Lib sebelumnya. Begini, saya juga cinta sama kamu, saya juga menyukai kamu."

Salma kembali terdiam, memberi peluang bersuara pada dengung kipas angin. Mungkin kipas angin yang menggerakkan senyum Tholib sesaat.

"Tapi saya mencintai kamu sebagai guru kepada muridnya, menyukaimu sebagai anak didik saya. Saya anu Lib, saya sudah bertunangan" kalimat datar dan sedikit berat dari Salma menghapus senyum Tholib.

"Saya sudah tahu perasaan kamu, rasa cinta kamu tulus. Pilihlah wanita yang baik yang nantinya rasa cinta kamu layak dipersembahkan untuknya" Salma tersenyum, lalu membenarkan posisi duduknya.

Bel menjerit dari empat sudut gedung SMA HARAPAN BANGSA, tanda jam istirahat telah selesai. Tholib meninggalkan ruang guru dengan langkah gontai.

Aku yang berdiri mematung sejak tadi disudut jendela, kini mengikuti langkah Tholib menuju kelas.

"Akulah yang pantas mendapatkan cintamu Lib" desah lirih batinku.

0 komentar:

KOMENTAR Via Facebook