Tenda telah berdiri seiring temaram senja yang kian memudar. Semburatnya tenggelam perlahan membawa kerongkongan dahaga. Waktu magrib telah tiba, saat berbuka puasa. Aku meminum seteguk teh hangat yang kubawa dari rumah. Menyalakan sebatang rokok, lalu duduk manis di belakang meja yang ditumpangi berlusin-lusin celana jeans. Yah, pekerjaan sekarangku adalah penjual celana. Kaya?banyak uang?mungkin, jika itu punyaku. Tidak, aku hanya diberi tugas menjaga dan menjual saja. kacung bahasa kasarannya.
Tak lama berselang, aku melangkah menuju Masjid. Aku memang tak suka makan yang berat saat berbuka puasa sebelum sholat. Jadi males. Selain itu, kita juga bergantian. Bos-ku sedang makan, aku berangkat sholat. Sehingga ketika aku selesai sholat, dia bisa bergegas sholat dan aku kembali menjaga lapak sembari makan
Tenda berukuran 4x2 meter ini berdiri kokoh di trotoar Alun-alun kota Pekalongan. Semakin malam, semakin rame pengunjung. Kamu bisa dapatkan apa saja disini. Dari yang baru sampai yang bekas, dari yang kecil ampe yang besar, dari yang murahan hingga yang berkelas.
Jam di pergelangan tangan menunjukkan tepat jam 10. Lebih dari 12 potong sudah terjual. Rasa letih sedikit membuat kaki pegal. Aku duduk dan menyalakan sebatang rokok. Meski masih banyak yang berlalu lalang, namun sudah sedikit yang bertransaksi. Bos-ku pamit untuk mengambil barang dirumah, ada titipan katanya.
"mas, mau nuker mas" tiba-tiba seorang cewek bersama lelakinya datang (lagi) . Sepertinya masih seumuranku.
"kekecilan mbak?" aku mengambil bungkusan yang disodorkan
"nggak, tapi pahanya kurang gedhe"
"kalo yang gedhe ya lain model mbak" kataku sambil menunjuk beberapa model celana
aku mengambil tiga model celana berbeda dan memberikannya. Mereka berdua mulai memilih. Dari mulai digosok, tarik, bahkan sampai pakai jengkal.
"yang coklat ini aja mas, nomornya juga pas" dia menunjukkan sepotong celana yang sedari tadi ditelitinya
"tapi kalau mbak ambil yang ini mbak nombok lagi 20ribu. Beda harga sama yang tadi mbak" jelasku sebelum mereka salah paham dengan harga yang beda
"yah, masak nggak di pas-in aja mas?" si cowok angkat bicara
"bahannya udah beda, merk-nya juga beda"
"pokoknya di pas aja lah mas" muka jutek si cewek di keluarin
"ya udah, ntar tunggu bos saya saja mbak. Dia lagi keluar, sebentar kembali"
aku memberikan kursi plastik buat mereka duduk. Aku kembali merapikan beberapa potong celana
"jujur ya mas, yang mukanya pantes jadi bos-nya itu kamu mas"sambil menunjuk ke arahku,dia tersenyum renyah. Sedikit memaksaku membalas senyumnya
Sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa tersipu pujian tadi. Entah dia jujur atau hanya merayu demi sepotong celana, yang jelas mampu membuatku sedikit tersipu.
Pekalongan, 3 Agustus 2011





0 komentar:
Poskan Komentar