22 Desember 2010

SENANDUNG RINDU



Gema suaramu membahana terbawa kabut malam
Memanggil-manggil dalam sepi yang kelam
Menggoda kembali untukku merindumu

Ah, andai saja ada alasan mengirimkan rindu
Pasti sejak kemarin kulayangkan di mejamu

Aku merindu bayangmu
Dalam malam
Sepi mencekam
Sendiri bercinta dengan lamunan
Dalam buaian kasih
akanmu ulurkan tangan

Aku ingin kau, apapun konsekuensinya !

.

SUCI a.k.a UCIX


Kugores dalam pusaran waktu
Bait-bait tentangmu
Kubawa juga inisial nama kecilmu
Nama yang kukenal dulu
Empat tahun yang lalu

Kuletakkan penantianku disini
Menunggumu tanpa ujung hari
Rindu menggugu
di jambangan hati
Bersuara
lewat denyut nadi

Kugelar lembar hati yang merindu
Akan sambut dan ulur tanganmu
Untuk itu,
Disini kusertakan namamu namaku
Juga alamat ruang rinduku
Dimana kau bisa menghubungiku
Bila nanti kau baca sajak ini
Lalu tergetar hatimu
Lantas mengingat siapa aku

Kupahatkan sajak ini disini
Bersama untaian do'a sunyi
Menggamis kerinduan akan sebentuk hati

Barangkali ini harapan basi
Berharap setiap hari setiap pagi
Kau bisa tersesat disini
Ketika kau sedang berselancar
Di dunia maya penuh kepalsuan
Saat mengetik namamu
Atau untaian sajak yang kau buru

Aku belum jemu
Walau telah empat tahun menunggu
Dan tak pernah akan jemu
Untuk menunggumu lebih lama
sampai kau tahu
Dan kau mau
Melayangkan pesan singkatmu

"Ali, aku sudah baca sajakmu... "

Lantas lekas-lekas aku menghubungimu
Menanyakan darimana kau tahu

Mungkin saat itu
kau tertawa
Lalu kita akan bercanda
Kita rajut cerita terindah untuk dunia
Atau ada kemungkinan lainnya?
Kau tak pernah tahu
Dan tak mau tahu.

Mencintai tidak selalu berarti bahagia

Kayaknya gue harus setuju dengan kalimat "Mencintai nggak selalu berarti bahagia". Sebab setelah semua yang gue rasain lagi-lagi terjebak dalam kalimat itu.

Ada berbagai macam dan bentuk cinta yang ada dan ditawarkan di muka bumi ini. Entah itu cinta bersyarat, cinta tanpa syarat, atau cinta yang bermasyarakat. Lalu apa semua bisa disebut dengan cinta?

Agaknya dalam hidup ini, cinta itu memiliki standarisasi masing-masing. Relatif ! Namanya relatif, ya nilainya bakal tergantung dari kacamata si penilai, tergantung yang mengutarakannya meski dia bukan seorang penilai ahli. Tapi, kalo boleh gue berpendapat, ini yang mungkin paling cocok buat semua jawaban cinta. Baik bagi yang pernah patah hati, patah tulang, atau sedang jatuh cinta. Tapi jangan sampai jatuh tulang. Gini, kenyataan sebenarnya di dunia ini, orang yang mencintai nggak selalu berarti bahagia. Apakah berarti jadi kebalikanya, bahwa orang yang dicintai harus selalu bahagia? Namun lagi-lagi akan bernilai relatif juga. Sebab semisal dicintai dengan cara posesif juga nggak enak. Dicintai dengan banyak aturan juga nggak enak. Malah banyak nggak enaknya.

Otak ini lagi muter-muter mikirin masalah ini, namun nggak dapet ujungnya.

Sory, hal ini mungkin cuma dialektika yang nggak bakal ada habisnya. Sebab bakal selalu ada tesis, antitesis, dan sinte.

Bisa diterima?

KOMENTAR Via Facebook